Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

Monday, December 14, 2015

Life is a Gift



Today before you think of saying an unkind word-

think of someone who can't speak.


Before you complain about the taste of your food-

think of someone who has nothing to eat.


Before you complain about your husband or wife-

think of someone who is crying out to God for a companion.


Today before you complain about life-

think of someone who went too early to heaven.


Before you complain about your children-

think of someone who desires children but they're barren.


Before you argue about your dirty house, someone didn't clean or sweep-

think of the people who are living in the streets.


Before whining about the distance you drive-

think of someone who walks the same distance with their feet.


And when you are tired and complain about your job-

think of the unemployed, the disabled and those who wished they had your job.


But before you think of pointing the finger or condemning another-

remember that not one of us are without sin and we all answer to one maker.


And when depressing thoughts seem to get you down-

put a smile on your face and thank God you're alive and still around.



Life is a gift. Live it, Enjoy it, Celebrate it, and Fulfill it.

Sunday, June 21, 2015

PERNIKAHAN BUKAN PENTERNAKAN


PERNIKAHAN BUKAN PENTERNAKAN


Ayat bacaan: Kejadian 2:18
===================="TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Beberapa minggu yang lalu ada salah seorang siswa yang sudah berkeluarga berbincang-bincang dengan saya selepas kuliah. Obrolan akhirnya sampai kepada keluarga, dan dia bercerita bahwa ia menceraikan istrinya dan kemudian menikah lagi. Alasannya apa?"karena tidak bisa punya anak.." katanya ringan sambil tertawa kecil. Saya merasa kaget, tapi sebenarnya itu adalah sebuah potret kehidupan. Begitu banyak orang yang akhirnya mengalami kegagalan rumah tangga karena kekecewaan akan pasangannya yang belum juga mampu menghadirkan keturunan. Ketika usia terus bertambah, namun tidak juga mendapat keturunan, apalagi setiap hari ditanyai "kapan punya anak" dari keluarga atau teman-teman, mereka pun mulai berpikir bahwa pernikahan mereka telah gagal. Sebagian lagi akan memakai hal ini sebagai alasan untuk menikah lagi untuk kedua kalinya. Apakah saya merasa tidak butuh keturunan? Sama sekali tidak. Saya masih terus berdoa agar Tuhan berkenan memberkati kami dengan keturunan. Saya, sama seperti pasangan lainnya, tentu mengharapkan keluarganya dilengkapi dengan anak-anak. Wajar jika kita berharap akan lahirnya anak-anak dari pernikahan kita. Namun yang ingin saya sampaikan adalah, tujuan utama sebuah pernikahan bukanlah untuk mempunyai anak.Pernikahan bukanlah peternakan.

Dari contoh siswa saya di atas tadi, dan banyak kasus lain mengenai kegagalan rumah tangga akibat tidak mendapat keturunan, saya melihat adanya salah kaprah mengenai tujuan utama mendirikan lembaga pernikahan. Mereka memandang pernikahan layaknya sebuah peternakan, dimana kita bisa mengembangbiakkan keturunan kita. Sekali lagi, pernikahan bukanlah peternakan. Sebuah pernikahan, dimana Tuhan sendiri yang memateraikan pembentukannya, punya tujuan yang jauh lebih penting daripada sekedar memiliki keturunan. Apalagi jika dasarnya hanyalah "kejar tayang" atau takut disebut "bujang lapuk/perawan tua", akibat nafsu, gengsi, desakan orang tua dan lain-lain. Itu semua bukanlah tujuan utama sebuah pernikahan menurut firman Tuhan. Ayat bacaan hari ini menyatakan dengan jelas tujuan Allah menciptakan pasangan buat manusia, yaitu sebagai penolong. Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam (Kejadian 2:21), yang menunjukkan sebuah hubungan erat, bahwa istri adalah bagian hidup suami, bukan sekedar alat pemuas nafsu dan "pabrik" pembuat anak.Tapi Tuhan melengkapi kita dengan seorang pasangan agar kita bisa saling melengkapi, saling menyempurnakan dan saling menolong. 

Dalam sebuah pernikahan yang diberkati Tuhan, kita bisa mengalami, menikmati dan saling berbagi sukacita dan cintakasih. Kita bisa saling support ketika salah satu tengah mengalami kesulitan. Kita bisa menghidupkan sebuah persekutuan dengan memuliakan Allah diatas segalanya. Janji pernikahan yang kita ucapkan pun menyatakan hal itu, bukan menyatakan bahwa kita menikah untuk membuat anak. Memiliki penerus garis keturunan adalah penting dan merupakan dambaan hampir setiap orang, namun itu bukanlah yang terutama. 

"Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN.." (Mazmur 127:3). Anak adalah pemberian dan anugerah dari Tuhan. Jangan tawar hati jika hingga saat ini anda masih seperti saya yang belum saatnya dikaruniai anak. Biarlah itu terjadi sesuai kehendak Tuhan, Sang Pencipta. Yang penting adalah kita menyadari hakekat dari sebuah pernikahan sesuai apa yang difirmankan Tuhan. Jangan merasa bahwa tanpa anak, lembaga pernikahan yang anda bangun sebagai sebuah kegagalan. Karena ada Allah yang bertahta di atasnya, yang telah memberkati dan mengikat penyatuan hubungan antara suami dan istri. Jadikan pernikahan sebagai tempat dimana anda bisa bersinergi dengan pasangan untuk memuliakan Tuhan, dan bersama-sama seiring sejalan melakukan kehendak Allah atas kehidupan kita. Pernikahan yang gagal bukanlah pernikahan yang tidak melahirkan anak, melainkan pernikahan yang tidak berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.
ADA ANAK ATAU TIDAK, TETAPLAH MEMILIKI PERNIKAHAN YANG SUKSES PENUH DENGAN KEBAHAGIAAN




Wednesday, May 6, 2015

Maksimalkan Skill Anda!



Untuk mencapai kesuksesan, tidak ada pilihan lain kecuali Anda sendiri mempunyai keahlian, bakat atau potensi diri yang lebih baik dari orang lain. Bahkan ada yang mengatakan untuk menggapai sukses, ‘be extremist’. Faktor lain yang tidak kalah penting adalah "komunikasi" dan "promosi" (bagaimana cara menyampaikan kelebihan Anda ke pihak-pihak luar yang tepat, sehingga mereka mengetahui, lalu tertarik dan memanfaatkan kelebihan atau keunggulan yang Anda miliki).

Ada pepatan bijak dalam bahasa Mandarin, 百艺通, 不如一艺精 bǎi yì tōng bù rú yī yì jīng, arti harfianya “mengerti ratusan keahlian tidak lebih baik daripada menguasai satu yang mendasar”. Maka dalam hidup ini, akan lebih baik menguasai satu keterampilan secara mendalam dibandingkan menguasai banyak tetapi setengah-setengah. Dengan menguasai satu keahlian secara mendalam, akan menjadikan diri Anda unik, spesial dan tiada tandingannya.

Untuk lebih jelasnya, coba simak kisah berikut ini, tentang seekor anak singa dan anak kambing gunung.

Suatu hari di suatu lapangan yang luas, di daerah perbukitan, terlihat seekor singa sedang mengajari anaknya berlari. Melihat langkah anaknya sangat lambat, induknya pun berkata, ”Ayo lari lebih cepat lagi, ayo... tambah cepat lagi...!”

Tapi ternyata ajakan ibunya belum mampu mendorong anak singa tersebut untuk berlari lebih cepat. Akhirnya sang ibu menasihatinya, ”Jika kamu tidak bisa lari lebih cepat dari kambing gunung yang paling lambat, maka kamu akan mati kelaparan di hutan ini.” Kata-kata tersebut menyadarkan si anak, bahwa tidak ada yang bisa menolongnya kecuali ia sendiri harus lebih baik dan lebih cepat dari mangsanya. Seketika itu pula, ia pun mengeluarkan segenap tenaganya, dan ternyata ia bisa berlari dengan sangat kencang.

Pada saat yang bersamaan, di padang rumput hijau di seberang sana, terdapat sekumpulan kambing gunung. Di antara kambing-kambing yang sedang beristirahat, terlihat seekor induk kambing sedang melatih anaknya. Dari jauh terdengar suara ajakan yang bersemangat, ”Ayo lari... ayo lari..... lebih cepat lagi...! Bagus...bagus...! Lebih cepat lagi!”

Ternyata ajakan tersebut tidak juga memotivasi anaknya untuk berusaha berlari lebih cepat. Sampai akhirnya, ibunya mengeluarkan nada yang sedikit mengancam. Ia berkata, ”Jika kamu tidak bisa lari lebih cepat dari singa yang paling cepat, maka hidup kamu akan sia-sia. Cepat atau lambat kamu akan menjadi mangsanya.”

Mendengar kata-kata tersebut, si anak pun berdalih,”Mana mungkin seekor kambing gunung bisa berlari lebih cepat dari singa yang larinya paling cepat?”

Tiba-tiba ibunya berteriak sambil berlari,”Ada singa di belakang kamu! Ayo lari...!” Ancaman yang kelihatan sungguh-sungguh itu, ternyata mampu membuat anak kambing gunung bisa berlari dengan luar biasa cepatnya.

”Nah... kecepatan inilah yang kamu harus pertahankan dan kembangkan untuk bisa sukses mempertahankan hidup,” pesan ibunya.

Netter yang Bijaksana,

Tidak ada yang "tidak bisa" di dunia ini sepanjang kita mempunyai keyakinan, kemauan untuk melaksanakannya. Ada peribahasa dalam bahasa Mandarin yang mengungkapkan bahwa “batang besi pun bisa diasah menjadi jarum” (磨杵成针 mó chǔ chéng zhēn). Kesuksesan apapun bisa diraih, asalkan kita rajin, tekun, dan pantang menyerah. Maju selangkah demi selangkah, konsisten, pada akhirnya akan membawa kita ke jenjang yang lebih bagus, ke puncak kesuksesan.

Dalam kisah di atas, hanya ada satu pilihan bagi masing-masing pihak: ”lebih baik, atau mati”. Singa hanya bisa hidup jika bisa berlari lebih cepat dari kambing gunung yang paling lambat. Dan kambing gunung bisa mempertahankan hidupnya jika ia bisa berlari lebih cepat dari singa yang paling cepat.

Demikian halnya dalam hidup ini, jika kemampuan kita di bawah rata-rata (teman kerja atau seprofesi), yang ada hanyalah menunggu waktu ”kematian” karena selalu tertinggal. Sedangkan bila kemampuan kita setingkat rata-rata, kesempatan yang tersedia hanyalah untuk mempertahankan hidup. Hanya dengan kemampuan di atas rata-ratalah, kita baru bisa mencapai jenjang kehidupan yang lebih baik dan sukses.

Jadi, persiapkan diri Anda dengan sebaik-baiknya dan menjadi manusia yang terbaik di bidang yang Anda tekuni.





from Andrie Wongso

Saturday, November 22, 2014

Happiness




"The happiest people don't have the best of everything. They just make the best of everything. Being happy doesn't mean that everything is perfect. It means that you've decided to look beyond the imperfections."
(Unknown)


Tuesday, October 28, 2014

Action Apply DO

Bruce Lee :

Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do.